Sampah di Laut Indonesia Kian Mengkhawatirkan, Mengancam Ekosistem dan Kehidupan Nelayan

0
47

Jakarta, Malanesianews, –  Sampah di laut Indonesia semakin menjadi perhatian serius. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sekitar 3,2 juta ton sampah plastik mencemari perairan Indonesia setiap tahunnya. Kondisi ini mengancam ekosistem laut serta kehidupan masyarakat pesisir, terutama nelayan yang bergantung pada hasil laut.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), lebih dari 80% sampah yang mencemari laut berasal dari daratan, termasuk limbah rumah tangga, industri, dan aktivitas wisata. Sampah plastik seperti botol, kantong plastik, dan sedotan menjadi jenis polutan utama yang sulit terurai dan berdampak buruk bagi biota laut.

Dampak dari pencemaran ini sangat luas. Banyak ikan dan biota laut lainnya ditemukan dalam kondisi tercemar mikroplastik, yang akhirnya dapat masuk ke rantai makanan manusia. Selain itu, tumpukan sampah di lautan juga mengganggu jalur pelayaran dan merusak keindahan pantai, yang berdampak negatif pada sektor pariwisata.

Beberapa langkah telah diambil untuk mengatasi masalah ini, seperti program nasional pengurangan sampah plastik, gerakan bersih pantai, serta penerapan aturan pembatasan plastik sekali pakai di beberapa daerah. Namun, upaya tersebut masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal kesadaran masyarakat dan penegakan regulasi.

Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Wiranata, menyebutkan bahwa solusi jangka panjang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, dan masyarakat. “Kita perlu memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Meskipun tantangan masih besar, upaya penyelamatan laut Indonesia harus terus dilakukan. Kesadaran dan aksi nyata dari berbagai pihak menjadi kunci untuk menjaga ekosistem laut agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini