Diterpa Kampanye Hitam, Benhur Tomi Mano – Constant Karma Justru Mendapat Dukungan Dari Kiyai, Ustad, serta Ulama

0
171

Jayapura, Malanesianews, – Tahapan Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua diwarnai isu sensitif yang menyeret pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor urut 1, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma. Sebuah narasi liar soal Peraturan Daerah “Papua Kota Injil” mencuat dan dikaitkan dengan pasangan ini, memicu kekhawatiran akan potensi konflik berbasis isu agama.

Merespons hal tersebut, sejumlah tokoh agama Islam di Papua, termasuk kiyai, ustaz, dan ulama, mendatangi kediaman Benhur Tomi Mano (BTM) pada Jumat, 4 April 2025. Mereka menyampaikan dukungan sekaligus klarifikasi langsung terkait rumor yang beredar.

Ketua Majelis Muslim Papua Kabupaten Keerom, Ustad Nursalim Al Rozi, menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah. “Kami terus mengedukasi umat agar tidak mudah terpancing. Politik identitas dan isu SARA seperti ini harus kita tolak bersama. Pilkada seharusnya menjadi ajang adu visi, bukan adu fitnah,” ujarnya kepada wartawan usai pertemuan.

Ustad Nursalim, yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Silaturahmi Mubalig se-Papua, menyebut bahwa pihaknya telah mendengar langsung penjelasan dari BTM dan CK, dan tidak menemukan kebenaran atas isu tersebut. Ia memastikan umat akan memilih berdasarkan hati nurani, bukan oleh pengaruh kampanye hitam.

Meski terus dihantam berbagai tudingan, dukungan terhadap pasangan BTM-CK justru semakin menguat. Banyak pihak menilai keduanya memiliki rekam jejak panjang dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Papua. BTM dikenal dekat dengan komunitas Muslim sejak masa kecil hingga menjabat Wali Kota Jayapura selama dua periode. Sementara Constant Karma, yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur dan Pj Gubernur Papua, memiliki citra sebagai pemimpin pluralis dan inklusif.

Menanggapi isu tersebut, Constant Karma mengaku terkejut. “Saya baru tahu ada isu seperti itu. Tapi masyarakat bisa menilai sendiri rekam jejak kami. Pak BTM 10 tahun di Kota Jayapura, saya 17 tahun di Pemprov. Isu seperti ini tidak akan menggoyahkan komitmen kami menjaga Papua tetap damai dan bersatu,” ujarnya.

Pilkada Papua memang menjadi sorotan nasional, tak hanya karena dinamika politiknya, tapi juga karena tingginya harapan masyarakat akan pemimpin yang mampu menjaga kerukunan serta menghadirkan pembangunan yang merata dan adil.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini