Jakarta, Malanesianews, – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio, memerintahkan pemberhentian dana bantuan ke hampir seluruh dunia, Indonesia termasuk di dalamnya
Berdasarkan memo, pemerintah AS ingin mengembangkan standar untuk melihat dan menilai apakah bantuan tersebut sudah selaras dengan agenda kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump atau belum. “Keputusan untuk melanjutkan, mengubah, atau menghentikan program akan dibuat setelah peninjauan ini,” tulis memo tersebut.
Perintah eksekutif yang dikeluarkan Trump ketika dirinya resmi menjadi presiden untuk kedua kalinya, tentu mempengaruhi segala hal, seperti bantuan pembangunan sampai bantuan militer. Hal ini menurut Guardian juga berdampak pada Ukrainia yang biasa menerima miliaran dolar dalam bentuk senjata ketika masa kepemimpinan Presiden Joe Biden.
Meninjau hal tersebut seorang mantan pejabat senior di USAID yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan hal ini sebagai kekacauan besar.
“Organisasi-organisasi harus menghentikan semua kegiatan, jadi semua layanan kesehatan yang menyelamatkan nyawa, HIV/AIDS, gizi, kesehatan ibu dan anak, semua pekerjaan pertanian, semua dukungan terhadap organisasi masyarakat sipil, pendidikan,” kata dia terkait Amerika Serikat yang menghentikan bantuan ke luar negeri, sebagaimana dilansir The Guardian pada Jumat, 24 Januari 2025.
Indonesia adalah negara dengan beban triple burden disease penyakit menular seperti HIV, malaria, dan TBC masih menjadi ancaman serius, sementara penyakit tidak menular dan risiko kesehatan baru juga meningkat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Di sisi lain, meskipun prevalensi HIV di Indonesia lebih rendah dibandingkan beberapa negara Afrika, angka infeksi baru tetap mengkhawatirkan, terutama di kalangan populasi kunci. Untuk malaria, meskipun terjadi penurunan kasus signifikan dalam satu dekade terakhir, ancaman penyakit ini masih tinggi di wilayah Indonesia bagian timur.
Bantuan Amerika selama ini mendukung berbagai program kritis, mulai dari pengadaan obat, kampanye pencegahan, hingga pelatihan tenaga medis. Misalnya, program distribusi ARV yang didanai Global Fund memastikan bahwa ribuan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia bisa mendapatkan pengobatan secara gratis atau dengan biaya yang sangat terjangkau. Tanpa bantuan ini, rantai pasokan obat bisa terganggu, menyebabkan kekurangan stok yang berisiko fatal.
Reuters mencatat, Amerika Serikat (AS) merupakan negara pemberi bantuan terbesar di dunia. Diketahui pada tahun 2023, AS menyalurkan bantuannya sebesar 72 miliar dolar Amerika. Negara ini menyediakan 42 persen dari semua bantuan kemanusiaan yang dilacak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2024.